Selasa, 13 Mei 2008

Sejarah SMP Negeri 6 Malang

SMP Negeri 6 Malang resmi alih fungsi menjadi SMP sejak tahun 1960, tetapi di Surat Keputusan (SK) tertera pada tahun 1961. Sebelumnya Gedung SMP Negeri 6 ini digunakan sebagai gudang kopi dan mengalami alih fungsi sebagai sekolah sekitar tahun 50-60 an gedung SMP Negeri 6 Malang dipakai untuk sekolah guru bawah (SGB) setara dengan guru SMP. Ini terlihat dari Gedung depan SMP masih menggunakan alas kayu untuk lantainya dan merupakan cagar budaya, sehingga jika untuk merubah / membangun kembali harus ada izin dari Badan Perlindungan Cagar Budaya.
Pada tahun 1945-1950 sebelum menjadi SGB setelah perebutan kekuasaan, sekolah ini menjadi asrama TRIP sampai setelah pengambilan kemerdekaan. Disamping digunakan sebagai asrama TRIP gedung SMP digunakan sebagai markas yang ingin jadi pejuang untuk warga pribumi.Mulai tahun 1961 sampai sekarang gedung ini resmi digunakan oleh SMP Negeri 6 Malang, dan telah mengalami pergantian kepala sekolah sebanyak sebelas kali.

Rabu, 07 Mei 2008

Kriteria Kelulusan

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)
Semua mata pelajaran 72 kecuali IPA dan Matematika 67
Nilai KD kurang dari KKM diberi kesempatan remidi
Waktu remidi pulang sekolah
Hari : Senin, Rabu, Kamis, Sabtu

Siswa dapat lulus ada dua syarat yang harus dipenuhi :
Aspek Akademik
Memiliki nilai raport lengkap pada semester sebelumnya
Lulus ujian sekolah, memiliki nilai rata-rata minimum 6,00 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan dengan tidak ada nilai dibawah 5,25
Lulus Ujian Nasional
Memiliki nilai rata-rata minimum 5,25 untuk seluruh mata pelajaran yang diuji nasionalkan (Bhs Indonesia, Bhs Inggris, Matematika,IPA) dengan tidak ada nilai di bawah 4,25
Memiliki nilai minimal 4,00 pada salah satu mata pelajaran dan nilai mata pelajaran lainnya minimal 6,00

Aspek non Akademik
Jumlah kehadiran tatap muka minimum 90 % hari efektif ( tanpa keterangan maksimum 10 % hari efektif )
memiliki Nilai Ekstra Kurikuler minimum 1 (satu ) macam dengan predikat minimum Cukup ( C )
Nilai : Kelakuan, Kerajinan dan Kerapian rata-rata baik ( B )
Jumlah point pelanggaran maksimum 85

Rabu, 26 Maret 2008

Model Pembelajaran ARIAS

Model pembelajaran ARIAS merupakan modifikasi dari model ARCS. Model ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction), dikembangkan oleh Keller dan Kopp (1987: 2-9) sebagai jawaban pertanyaan bagaimana merancang pembelajaran yang dapat mempengaruhi motivasi berprestasi dan hasil belajar. Model pembelajaran ini dikembangkan berdasarkan teori nilai harapan (expectancy value theory) yang mengandung dua komponen yaitu nilai (value) dari tujuan yang akan dicapai dan harapan (expectancy) agar berhasil mencapai tujuan itu. Dari dua komponen tersebut oleh Keller dikembangkan menjadi empat komponen. Keempat komponen model pembelajaran itu adalah attention, relevance, confidence dan satisfaction dengan akronim ARCS (Keller dan Kopp, 1987: 289-319).
Model pembelajaran ini menarik karena dikembangkan atas dasar teori-teori belajar dan pengalaman nyata para instruktur (Bohlin, 1987: 11-14). Namun demikian, pada model pembelajaran ini tidak ada evaluasi (assessment), padahal evaluasi merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan tidak hanya pada akhir kegiatan pembelajaran tetapi perlu dilaksanakan selama proses kegiatan berlangsung. Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kemajuan yang dicapai atau hasil belajar yang diperoleh siswa (DeCecco, 1968: 610). Evaluasi yang dilaksanakan selama proses pembelajaran menurut Saunders et al. seperti yang dikutip Beard dan Senior (1980: 72) dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Mengingat pentingnya evaluasi, maka model pembelajaran ini dimodifikasi dengan menambahkan komponen evaluasi pada model pembelajaran tersebut. Dengan modifikasi tersebut, model pembelajaran yang digunakan mengandung lima komponen yaitu: attention (minat/perhatian); relevance (relevansi); confidence (percaya/yakin); satisfaction (kepuasan/bangga), dan assessment (evaluasi). Modifikasi juga dilakukan dengan penggantian nama confidence menjadi assurance, dan attention menjadi interest. Penggantian nama confidence (percaya diri) menjadi assurance, karena kata assurance sinonim dengan kata self-confidence (Morris, 1981: 80). Dalam kegiatan pembelajaran guru tidak hanya percaya bahwa siswa akan mampu dan berhasil, melainkan juga sangat penting menanamkan rasa percaya diri siswa bahwa mereka merasa mampu dan dapat berhasil. Demikian juga penggantian kata attention menjadi interest, karena pada kata interest (minat) sudah terkandung pengertian attention (perhatian). Dengan kata interest tidak hanya sekedar menarik minat/perhatian siswa pada awal kegiatan melainkan tetap memelihara minat/perhatian tersebut selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Untuk memperoleh akronim yang lebih baik dan lebih bermakna maka urutannya pun dimodifikasi menjadi assurance, relevance, interest, assessment dan satisfaction. Makna dari modifikasi ini adalah usaha pertama dalam kegiatan pembelajaran untuk menanamkan rasa yakin/percaya pada siswa. Kegiatan pembelajaran ada relevansinya dengan kehidupan siswa, berusaha menarik dan memelihara minat/perhatian siswa. Kemudian diadakan evaluasi dan menumbuhkan rasa bangga pada siswa dengan memberikan penguatan (reinforcement). Dengan mengambil huruf awal dari masing-masing komponen menghasilkan kata ARIAS sebagai akronim. Oleh karena itu, model pembelajaran yang sudah dimodifikasi ini disebut model pembelajaran ARIAS.